09/07/13

Menjelajahi Bebek Songkem, Pulau Garam Madura

Pagi setengah siang itu udara tidak panas seperti biasanya, bahkan cenderung mendung seakan menemani perjalanan kami menuju ke "Pulau Garam" saat itu
Seberapa saat perjalanan kami mendung gelap malah sudah terlihat menggantung dilangit didepan kami yang saat itu berangkat berlima, bahkan ketika kami menyeberang di selat Madura lewat JEMBATAN SURAMADU yang kesohor di Indonesia itu  mendung seakan memberi hawa yang teduh di perjalan ini.

Melewati jembatan Suramadu memang memiliki perasaan yang berbeda bukan karena bangga sebagai orang jawa timur yang memiliki jembatan yang panjang ini, tetapi ternyata juga kita sempat tidak membayangkan kalau menyeberang ke plau Madura ini akan relatif lebih cepat ketimbang menggunakan kapal ferry yang waktu itu menjadi angkutan utama ke pulau garam itu.
Dengan jembatan ini paling lama kita butuh waktu kl. 10 menit sudah sampai di pulau yang terkenal dengan karapan sapinya itu, sehingga tidak perlu waktu menunggu lama buat menyebrang.
Sampai di sudut jembatan sisi Madura ini kita langsung disuguhi deretan pedagang-pedagang yang menjual aneka rupa yang berbau khas pulau ini, misalnya saja kita bisa pakaian, pernak-pernik bahkan aneka makanan yang berciri khas Madura.
Mumpung di madura tidak luput rombongan kita membeli aneka pakaian dan pernak-pernik yang dijual setelah pintu keluar jembatan Suramadu.


Oh ya sebelum saya lupa, saya ingin sampaikan kepada pembaca, bahwa perjalan saya ini adalah perjalanan mengantarkan rombongan dari Balikpapan yang dalam beberpa hari ini ada di Surabaya dalam rangka mengantarkan team Kantor Dinas Pariwisata Balikpapan yang kebetulan diundang untuk mengisi acara di Surabaya untuk tampil di CitraLand Superfest 2013 dan Surabaya Cross Culture Festival 2013.
Namun tidak itu yang saat ini saya tuju, tetapi saya akan  meneruskan perjalan lebih kedalam untuk jelajah jajan yang memang sudah menjadi tujuan kami.
Setelah beberapa saat rombongan membeli beberapa souvenir yang mereka borong, kemudian rombongan melanjutkan perjalanan ke tempat yang dari awal kita pingini yaitu ke rumah makan bebek Sinjay yang jaraknya tidak jauh dari penyebrangan, kira-kira setengah jam dari mulut jembatan.
Sampai di tempat yang dituju Bebek Sinjai rombongan sangat kecewa karena, ternyata ditempat itu kami disuguhi antrean yang panjang untuk mendapatkan bebek yang menurut beberap penyuka bebek termasuk bebek yang recomended.
Karena antrian yang panjang dan menurut saya daripada rpmbongan ini habis waktunya hanya untuk mengantri disini, karena memang rombogan dari Balikpapan ini dari sananya hanya ingin menikmati makanan bebek maka rombogan memutuskan untuk kembali kearah Surabaya yang ingin menyinggahi tempat makan yang juga tidak jauh dari bebek sinjay yang juga masih ada di sekitar jalan Raya Ketengan yaitu RM. MADURESSE yang menawarkan citaras baru di dalam hal masakan bebek yaitu bebek Songkem.
Akhirnya setelah beberapa saat kemudian rombongan sampailah di tempat yang kita tuju dan untungnya disini tempat makan ini tidak terlalu banyak pengunjungnya, sehingga kami mencari tempat dan langsung memesan beberpa menu yang ada.
Beberapa kawan rombongan ini ada yang memesan bebek goreng.
Bebek goreng Songkem yang ada disini kalau boleh saya memberi komentar ya cukup spesifik, dibandingkan dengan bebek yang selama ini kita jelajahi, selain karena dimasak dengan cara yang berbeda ternyata bebek ini juga masih terbilang basah, jadi bagi penggemar masakan bebek yang goreng kering tentu bebek disini tidak terlalu cocok, lain lagi dengan yg suka bebek dimasak basah, disini juga bisa menjadi salah satu pilhan.
Tidak seperti saya yang selalu ingin mencoba masakan yang baru maka siang itu saya melilih Bebek Songkem yang menurut saya baru ini saya mengetahui,  dan gimana bentuk serta rasanya ? tentu bagi penggemar bebek akan mendapatkan rasa yang sangat berbeda, bayangkan bebek yang dikukus  selama 3 jam hanya dengan pelepah daun pisang ( demikian mereka memasaknya) yang konon menurut mereka juga, masakan ini luna, empujk dan rendah kolesterol.
Setelah saya mencicipi ternyata benar seperti dugaan saya, bahwa bebek ini rasanya mengingatkan saya pada masakan-masakan kalau dikukus, jadi rasanya lebih didominasi pada aroma daun pisang yang membalutnya, namun dagingnya sangat empuk dan lunak, mungkin inilah yang ingin dijadikan  daya tarik dari rumah makan ini.
Itulah beberpa masakan bebek yang siang itu rombongan nikmati dan tentu sudah menjadi pengobat penasaran akan makanan bebek yang dikotanya hampir tidak ada, meski sebetulnya mereka masih penasaran ingin mencoba bebek yang belum sempat mereka cicipi.
Tapi setidaknya rombongan ini jauh-jauh dari balikpapan sudah sempat menjelajahi masakan bebek yang menurut mereka d kotanya hampir jarang yang menjualnya dan kalau ada rasanya jauh berbeda dengan yang ada di Surabaya.
Buat saudara-saudaraku yang hari itu menjelajahi kuliner Jawa Timur, tulisan ini sengaja saya persembahkan untuk mereka semoga dilain kesempatan bisa ketemu lagi dan tentu kita akan menjelajahi aneka masakan yang berbeda dengan rasa dan suasana yang berbeda juga.
Salam dari keluarga Surabaya.

RM. Maduresse
Jl. Raya Ketengan 85,
Burneh, bangkalan
Madura

Tidak ada komentar:

Posting Komentar