11/05/10

Festival Rujak Uleg 2010


Minggu siang, 09 Mei 2010 saya dan Non sudah ingin segera meluncur ke Jl. Kembang Jepun, ex. lokasi Kya-Kya, disinilah akan dilaksanakan FESTIVAL RUJAK ULEG 2010 dalam rangka  memperingati hari jadi kota Surabaya yang ke 717 tahun.
 
Sengaja saya datang agak awal, karena saya tak ingin melewatkan menyaksikan kostum para peserta yang ikut ambil bagian dalam acara ini, karena menurut informasinya kostum yang dikenakan akan menarik. Dan benar setalah saya bisa melihatnya sungguh siang itu saya bagai tak menikmati sebuah acara Festival  Rujak Uleg tapi, malah saya seperti menyaksikan sebuah acara festival pakaian, yang beraneka macam dan sungguh sangat menarik untuk dilewatkan begitu saja, coba lihat foto dibawah dari sebagian peserta yang hari itu menjadi pesertanya.


 Selain dari berbagai pakaian yang beraneka macam dan rupa yang dipakai oleh para peserta, ternyata juga para peserta ini juga mendandani sayuran mereka dibuat sedemikan rupa agar tampak indah dan menarik, coba ihat saja contohnya :


 
Diatas ini juga merupakan sebuah sajian dan penataan bahan rujak uleg yang sangat indah di pandang mata, sebuah ide yang kreatif dimana sebuah sajian yang menarik dan apik juga akan mempegaruhi selera makan kita.
Dalam kesempatan siamng itu pula selain kita bisa menyaksikan festival rujag uleg yang diikuti oleh ratusan peserta, kita juga bisa melihat acara NGULEG BERSAMA yang dilaksankan di tengah-tengah area di depan panggung kehormatan, acara nguleg bersama ini dilakukan oleh Bp. Bambang Dwi Hartono selalu Walikota beserta Ibu serta beberapa orang peabat yang ada dilingkungan Pemkot serta beberapa orang dari perwakilan negara-negara yang saat itu bisa hadir.
Festival kali ini memang sangat meriah, selain kegiatan ini dilaksankan dalam rangka hari ulang tahun Kota Surabaya yang ke 717 tahun kegiatan ini juga dilaksankan dalam jumlah yang banyak baik peserta maupun kapasitas nya, dan tak lupa masyarakat mendapat suguhan yang jarang sekali bisa disaksikan, juga disni masyarakat juga bisa ngicipi [ merasakan] rujak uleg yang di sajikan oleh peserta. 
Juga tak ketinggalan di acara ini kita juga bisa menyaksikan hiburan, band dan musik patrol tentu dengan MC yang tak asing lagi buat kita.

 

Acara ini berlangsung sangat meriah, karena panitia akan mencari pemenangnya diantara ratusan peserta yang mengikuti acara ini, tentu dengan berbagai hadiah menarik, seperti tiap pemenang selain mendapat uang pembinaan, juga mendapat hadian 1 [satu] buah sepeda MTB.
 
          foto bareng dengan salah satu pemenang....!!!!

Acara ini baru selesai pada sore hari, dan penontonpun baru beragsur-angsur pulang setalah disana sudah tak ada acara lagi.
Saya dan mungkin masyarakat yang lain, juga akan berharap festival ini akan terus dilaksanakan di tahun-tahun yang akan datang, selamat dan sampai ketemu di tahun yang akan datang........!!!!!!

06/05/10

Sate Ayam Ponorogo

Bagi penjelajah jajan mungkin menu sate ayam Ponorogo ini sudah tergolong tak baru lagi, tapi saya menu yang satu ini tergolong baru juga, karena sejujurnya saya tidak begitu berselera kalau harus makan sate ayam, masih mendingan kalau saya disuruh makan sate kambing, maka saya segera akan meng iyakan tawaran untuk menjelajahi sate kambing, sate yang dalam mitosnya bisa menaikkan gairah.
Saya karena sesuatu sebab harus menjelajahi sate ayam Ponorogo yang berada di Jl. Dharmawangsa ini, dalam spanduk yang ada di temapt ini tertulis : Sate ayam Ponorogo- Pak Seger Asli , entah mengapa kok masih tertera tulisan asli, apakah ada yang tak asli ? aku sendiri tak tahu jawabannya.
Sate seperti dalam pikiran saya, itu enaknya kalau makan di temapt dimana kita bisa melihat penjualanya memasak sambil menunggu pesanan kita datang, jadi kalau kita harus beli dan membungkus untuk dibawa pulang, saya yakin sensasi rasanya akan sangat lain kalau kita makan di tempat dibanding harus makan di rumah.
Konon sate yang saya jelajahi ini memiliki cita rasa yang spesial, satenya terbilang lunak dan gurih tapi, tentu sate ini tidak akan membawa kenikmatan yang maksimal jika bumbunya juga tidak menawarkan kelezatan yang prima jadi, sate dan bumbu harus seimbang, dan inilah yang mungkin ddiapatkan di Sate ayam Ponorogo Pak Seger ini.
Tapi seperti yang telah saya katakan diatas, sate itu baru enak kalau disantap di tempat, bukan dibawa pulang, dan....ah...lagi-lagi saya membawa pulang makanan yang saya jelajahi ini untuk dimakan di rumah.
Dasar perut sudah membawakan lagu kebangsaan kruyuk.......kruyuk....... maka begitu sate dibuka langsung saya menyantapnya, sampai hampir lupa kalau saya pesan lontong untuk menemani gurihnya sate ayam ini.
Benar sate yang aku beli memang pantas kalau bayak orang menyukainya, selain tekstur dagingnya yang empuk, gurihnya sangat terasa dan sisa bakaran nya pun tidak begitu terasa, jadi yang terasa adalah paduan daging yang empuk, gurih dan bum bu kacang yang sedikit mencair, yang menawarkan sensasi yang patut untuk dicoba lagi tentu dengan mencoba makan di tempatnya.
Bagi penjelajah jajan yang kebetulan saat itu menikamati sajian sate khas Ponorogo ini tentu akan menunggu dkarena memang harus antre untuk menunggu disajikan, nah ...waktu anda menunggu itulah penjelajah akan menemukan satu  bungkusan besar yang ada di meja makan, itulah yang dinamakan GARANG ASEM TULANG AYAM, memang inilah menu lain yang juga menjadi andalan tempat makan ini.
Kalau anda penasaran, bolehlah penjelajah  jajan langsung membuka dan mengintip isinya dan jangan lupa untuk mencicipinya karena satu bungkus besar yang ada didepan anda itu harganaya relaif sangat murah yaitu hanya Rp. 5.000,- dan dengan harga itu lidah penjelajah akan menikmati sayur garang asem yang gurih dan segar ini
Anda penasaran ? datang dan nikmati sensasi sate ayam Ponrogo dan Garang asem tulang ayam ini.

SATE AYAM PONOROGO ASLI
Pak Seger ASLI
Jl. Dharmawangsa 142
SURABAYA

02/05/10

Kreco, sensasi sebuah jajanan langka

Kalau penjelajah jajan ditanya perihal makanan apa yang sekarang langka dan sulit ditemukan di kota pahlawan ini maka, tentu kita akan sepakat bahwa KRECO adalah salah satu makanan yang saat ini tergolong langka dan sulit ditemukan.
Tidak semua daerah / lokasi dapat dengan mudah penjelajah jajan menemukan makanan yang berbahan baku Kreco ini.
Sebut saja di daerah Surabaya pusat ini, hampir dipastikan kita tak akan menemukannya, masak sih ? bener berani adu traktir, ditengah kota yang katanya penuh dengan pusat jajan penjelajah kita tak akan mudah menemui makanan ini, untung saya mendapatkan gurih dan segarnya ini ketika kami menyaksikan acara SURBAYA SIMPANG FESTIVAL ,30 April 2010, di area Taman Apsari, Surabaya
Jenis makanan ini sebetulnya sangat sederahan, baik isi maupun bumbu-bumbunya, coba kita perhatikan, nakanan ini hanya terdiri dari KRECO saja, yaitu sejenis binatang yang hidup subur utamanya didaerah rawa-rawa, bentuknya menyerupai KOL NENEK, tapi bentuknya lebih kecil dan bulat.
Kreco ini cara memasaknya pun sangat sederhana, cukup disayur lodeh dan diberi parutan kelapa, wah.....mengingat makanan inipun jadi ngilu ingin mencoba lagi.
Dan yang menjadi spesifik dari makanan ini, selain bumbu dan rasanya yang mensensasi cara makanpun sangat unik,
Coba kita bandingkan kalai kita makan KOL NENEK, dengan cara di congkel dengan sendok ataupun sejenisnya, karena memang dagingnya yang sangat lekat di dalam cangkangnya, tapi KRECO cukup dengan menyedot sisi kepala dari kreco tersebut, jadi harus menyedot dengan semangat dan hati-hati maka kita akan menemukan sensasi gurih dari isi makanan yang bernama KRECO ini.
Penjelajah jajan penasaran dengan rasa dan cara memakan makanan ini ? cobalah untuk menjelajahi di sudut-sudut kota Surabaya dan kalau mujur, kita akan menemukannya.
Selamat berputar-putar.....................

29/04/10

Suatu siang di kota Lamongan

Melakukan perjalanan karena urusan pekerjaan tentu memiliki berbagai macam pengalaman yang berbeda di satu tempat dengan tempat yang lain.
Seperti perjalanan yang saya kerjakan kemarin, karena sesuatu hal saya melakukan perjalanan kerja dengan relasi ke kota LAMONGAN.
Kota Lamongan ini sebetulnya tidak jauh dengan tempat kerja saya yang ada di Gresik, mungkin hanya ditempuh beberapa menit saja perjalanan sudah sampai di lokasi, tapi karena saya ingin perjalanan tersebut menjadi perjalananan yang memiliki nilai plus, maka setelah urusan kerja selesai saya akan melanjutkan dengan jelajah jajan makanan khas Lamongan, saya ingin mencoba kembali makanan khas nya kota ini yaitu nasi BORAN.
Tapi karena saya sampai di kota ini sudah siang maka, saya tak sempat menemukan nasi yang saya inginkan, karena biasanya nasi Boran ini dijualnya pada pagi hari, dan kalau tak salah, ibu-ibu penjual nasi ini menjualnya di sekitar terminal lama, jadi ketika saya melewati jalan itu [ saya lupa jalan apa ] sudah tak menemukan ibu-ibu penjual nasi Boran ini.
Karena memang waktunya makan siang, maka saya menyerahkan pilihan makan siang ini kepada teman saya, mau makan siang dimana.
Setelah berjalan  beberapa saat maka kendaraan kami dibelokkan kesuatu tempat rumah makan yang letaknya sangat strategis dan kalau tak salah rumah makan ini berada di sebuah bekas tanah sawah di pinggir jalan yang mudah dijangkau.
Memasuki area rumah makan ini mengingatkan saya pada rumah-rumah kuno tempo dulu, dimana ketika kita akan masuk rumah maka akan lebih dahulu melewati bangunan yang berbentuk joglo, dan disilah saya menemukan kembali suasana ini.
Lebih masuk kedalam lagi kita akan menemui 2 banguna memanjang, yang sebelah kiri aalah merupakan jajaran tempat makan yang berderet-deret eja dan kursi, sedang bangunan sebelah kanan adalah bangunan memanjang yang disekat-sekat menjadi beberapa bagian yang berfungsi sebagai temat makan juga tetapi bergaya LESEHAN.
Benar apa yang aku duga sebelumnya bahwa, rumah makan ini kemungkinan besar aalah cabang atau masih dalam satu pemilik dengan warung apung yang ada di kota Gresik karena, dilihat dari style dan menu makanannya tidaklah beda dengan yg di Gresik, coba saja makanan yang saya santap disini :
Yang satu ini adalah juga makanan kesukaan saya GURAMI BAKAR RUJAK, mencicipi gurami disini hampir sama seperti kita menikmati di tempat lain, hanya saja menurut saya gurami disini manisnya terasa dan aroma ikan bakarnya tidak begitu menyengat.
Menikmati menu Gurami goreng disini tidaklah lengkap jika tidak dengan makanan pendamping yang menurut saya ini adalah lagu wajib jika menjelajahi makanan seperti ini, maka saya pesan URAP-URAP heehehehe

Urap-urap dalam penampilannya tidaklah sangat istimewa, tapi lidah jawa seperti kita ini, makanan ini akan nampak pas dengan berbagai menu lain.
Menu kudapan disini juga sama dengan udapan yang lain, terlihat segar dan gurih bila dirasakan.
Menu sehat yang ini memang nampak cantik dan selalu pas bila dipadu dengan makanan berjenis goreng dan bakar ini, begitu khan sahabat penjelajah jajan ? lha..... iya..... jelasnya.
Sebagai pelengkap makan siang itu, kami juga memesan tahu crispy, sehingga di sela-sela kita makan gurami dan kudapan yang disediakan, kami juga mencicipi tahu yang gurih dan cripy ini.
Sungguh makan siang di Lamongan ini selain mendapatkan suasana yang segar dan sejuk di tempat yang memang  baru ini saya juga bisa mencicpi makanan yang enak tentu juga mengeyangkan. 
Bagi penjelajah jajan yang suka akan makanan ber cita rasa njawani, bolehkan anda mampir di rumah makan ini. Selamat bertemu di kota Lamongan

WARUNG APUNG RAHMAWATI
Jl. Simpang Kusuma Bangsa 06
LAMONGAN

12/04/10

Angsle dan Ronde, makin dekat

Di minggu kedua bulan April ini, saya mendapatkan menu favorit jajanan saya lagi dan yang paling menyenangkan, tempat jualannya tidak jauh-jauh dari tempat saya tinggal dan, inilah yang menjadikan saya tidak usah repot-repot pergi jauh untuk menikmati kedua jenis jajanan ini.
Pilihan pertama lidah saya adalah ANGSLE, minuman ini dulu sekali sangat akrab dengan lidah saya, karena hampir tiap hari saya mencicipi ini sewaktu pernah tinggal beberapa tahun di kota Tuban, di kota TUAK ini saya biasanya mendapatkan angsle ini di samping masjid besar alun-alun kota Tuban. jadi jelas saya masih bisa membadingkan ketika harus minum lagi di lain tempat.
Seperti ketika saya menemukan angsle ini di jalan Genteng Besar pada malam hari lidah langsung mengenali bahwa makanan ini meski tidak enak betul tapi sedikit-banyak sudah agak nyrempet dengan angsle yang bisa saya katakan enak. Angsle ini dibandrol dengan harga yang lumayan murah hanya Rp. 4.000,- / mangkok, anda sudah bisa menikmati angsle yang berkuah santan yang manis ini.
Pilihan kedua saya adalah RONDE, seperti yang sudah penjelajajah jajan ketahui, menu ronde hampir dimana-dimana tidaklahj jauh-jauh berbeda, ada ronde, kolang kaling, gorengan kacang dan sedikit ditambah serutan kelapa muda, hanya saja yang saya beli ini ada sedikit tambahan, ada mutiaranya, entah sebagai gantinya agar-agar yang gak ada atau memang sengaja diberi warna lain dengan menambah mutiara berwarna merah ? saya sendiri gak naya sama penjualya, yang jelas rasanya bisa dikatakan lumayanlah, sebab bagi penggemar wedang Ronde, mendapat sajian jajajan ini yang tidak jauh-jauh tempatnya, bisa sedikit mengobati rasa kangen pada minuman bernuansa hangat-hangat menyegarkan itu.

Lokasi :
Ronde dan Angsle
BANG JEK
Jl. Genteng Besar
Surabaya